Jagalah Hati

26 December 2005

STRUKTUR ORGANISASI GEREJA KATOLIK

Filed under: Gereja Katolik
STRUKTUR ORGANISASI GEREJA KATOLIK
 
   Sri Paus dan Negara Vatikan
          
   Menurut kepercayaan dalam Agama Katolik, maka kepala  Gereja
   adalah  Sri  Yesus  yang  dalam bentuk nampak sehari-hari di
   dunia diwakili oleh Sri Paus. Jadi  Sri  Paus  adalah  Wakil
   Yesus   Kristus   sebagai   Kepala  Gereja.  Gereja  Katolik
   mendasarkan hal ini pada  ayat  dalam  Injil  Mateus  16:18:
   "Petrus, engkau adalah batu karang; di atas karang padas ini
   akan  kudirikan  Gerejaku.   Kuasa   mautpun   tidak   dapat
   mengalahkannya."  Jadi menurut tradisi Gereja Katolik Petrus
   diakui sebagai Paus yang Pertama.
 
   Pelantikan  Petrus  sebagai  Paus  yang  pertama,   kemudian
   diikuti  juga  dengan penugasannya yang tertera dalam dialog
   Yesus  dan  Petrus  seperti  ditulis  dalam  Injil   Yohanes
   21:15-19,  dimana Sri Yesus bertanya: "Petrus, apakah engkau
   mengasihi Aku lebih  dari  yang  lain?"  Jawab  Petrus:  "Ya
   Tuhan,  Tuhan mengetahui bahwa hamba mengasihi Tuhan." Yesus
   berkata:  "Gembalakanlah   segala   dombaku."   Dialog   itu
   berlangsung sampai tiga kali dengan kata-kata yang sama.
 
   Gereja  Protestanpun mengakui bahwa Sri Yesus Kristus adalah
   Kepala Gerejanya, tetapi  tidak  mengakui  kekuasaan  Petrus
   sebagai Paus pertama dan dengan demikian juga tidak mengakui
   penggantinya sampai yang sekarang.
 
   Semenjak Petrus sebagai  Paus  pertama  sampai  kepada  Paus
   Paulus  VI  terdapat 263 orang Paus. Jadi Sri Paus Paulus VI
   adalah Paus yang ke 263. Bagaimana cara memilib nama seorang
   Paus?  Seorang  Kardinal  yang  terpilih  menjadi Paus bebas
   memilih namanya. Jika dia memilih nama Yohanes, maka dilihat
   dalam  daftar para Paus nama itu sudah dipakai oleh 23 orang
   Paus terdahulu, maka Paus yang sekarang  bergelar  Sri  Paus
   Yohanes ke XXIV. Jika dia memilih nama Pius, sedang nama itu
   pernah dipakai oleh 12 pendahulunya, maka dia bergelar  Paus
   Pius  XIII;  jika  pengganti  Paus  Paulus  VI  memilih nama
   Paulus, maka dia bergelar  Sri  Paus  Paulus  VII,  demikian
   seterusnya.
 
   Gelar-gelar   Sri   Paus   adalah:  Kepala  Gereja  Katolik.
   pengganti Petrus, Primas (Pangeran)  Gereja  Katolik,  Uskup
   kota Roma, Kepala Negara Vatikan.
 
   Dalam  urusan  dunia  Sri Paus adalah Kepala Negara Vatikan;
   Vatikan adalah negara kota seperti  Singapura  atau  Monaco,
   yang  luasnya  44 Ha. Didalamnya terdapat jalan raya, 2 buah
   Gereja besar diantaranya basilika  St.  Petrus,  istana  Sri
   Paus    cita   del   Vatikano,   gedung-gedung   Kementerian
   (Konggregasi)  yang  berjumlah  10  dan  sebuah  Universitas
   Kepausan Gregorian. Vatikan sebagai negara terletak ditengah
   kota Roma (Itali) tetapi lepas dari pengaruh negara Italia.
 
   Negara Vatikan mulai berdiri semenjak abad ke  VIII,  tetapi
   kemudian  oleh gerakan Persatuan Itali Raya dibawah pimpinan
   Garibaldi dicaplok dan dijadikan bagian  dari  Negara  Itali
   Raya  semenjak  tahun 1871. Jadi semenjak tahun itu Sri Paus
   hanya menjadi  kepala  Gereja  saja,  bukan  seorang  Kepala
   Negara  yang  berdaulat dan merdeka; bahkan dia lalu menjadi
   warga negara Italia. Usaha  ke  arah  pemulihan  kemerdekaan
   terus  diusahakan  dan  baru  tahun  1929  berhasil  ditanda
   tangani Perjanjian Veteranen antara Sri  Paus  Pius  XI  dan
   Benedicto  Musolini  pemimpin  Negara Itali waktu itu. Dalam
   Perjanjian  itu  ditegaskan  bahwa   kedaulatan   Sri   Paus
   dikembalikan  dan  diakui  oleh  Itali  sebagai  negara yang
   merdeka lepas dari Itali. Semua  milik  Gereja  yang  pernah
   disita dikembalikan.
 
   Negara  Vatikan  juga  disebut  Negara  Gereja.  Dan sebagai
   negara, maka Vatikan juga mempanyai  alat-alat  perlengkapan
   sebagai   negara.   Terdapat  10  Kementerian  yang  disebut
   Konggregasi misalnya Konggregasi Suci Kepausan untuk  urusan
   ibadat  Suci,  Konggregasi Kepausan untuk urusan orang-orang
   Kudus, dan lain-lain. Untuk urusan luar negeri  diurus  oleh
   Seketariat  Negara.  Sebagai  suatu negara maka Vatikan juga
   mempunyai Duta Besar di negara lain, yang disebut Pro Nuncio
   atau Nunciatur; dan juga negara lain ada juga yang mempunyai
   Duta Besar Vatikan; Kedutaan Besar Vatikan di  Indonesia  di
   Jalan Medan Merdeka Timur, sedang pada waktu ini (1977) yang
   menjabat Nunciatur adalah Mgr. (di baca Monsinyur) Vincentio
   Varargo,  sedang  duta  Besar  kita  di  Vatikan  adalah RM.
   Soebadio. Vatikan juga mempunyai gedung penjara yang praktis
   tidak   pernah   digunakan.  Mata  uang  dan  perangko  juga
   diterbitkan. Dengan demikian maka Vatikan  memang  merupakan
   suatu negara dalam arti yang sesuugguhnya.
 
   Pakaian  kebesaran  Sri  Paus  adalah;  tiara  yaitu mahkota
   berlapis tiga yang melambangkan bahwa Sri Paus  di  samping
   seorang  Raja,  juga  dalam  memerintah mewakili Allah Bapa,
   Putra dan Roh Kudus. Lalu  Cincin  bergambar  Petrus  sedang
   menjala  ikan  yang  melambangkan  bahwa Sri Paus meneruskan
   pekerjaan Petrus. Tongkat melambangkan bahwa  karya  gembala
   seperti  ditugaskan  Sri  Yesus kepada Petrus memang sungguh
   diteruskan. Kasula merah, lambang Sri Paus sebagai Guru yang
   rela  mengorbankan  hidupnya  (merah warna darah). Sri Yesus
   menurut  kepercayaan  orang  Kristen,  baik  Katolik  maupun
   Protestan  berfungsi sebagai: Raja, Guru dan Gembala. Fungsi
   ini tampak dalam pakaian kebesaran Sri Paus.
 
   Bagaimana cara pemilihan Paus?  Pada  zaman  dulu, pemilihan
   Paus  selalu  mengikut  sertakan  Kaisar, Kepala Negara yang
   beragama  Katolik   di   samping   para   Kardinal   sebagai
   pembantu-pembantu  Paus.  Namun kebiasaan itu hapus semenjak
   abad ke XVI. Dan mulai waktu itu  maka  pemilihan  Sri  Paus
   hanya  diikuti oleh para Kardinal saja. Jika terdengar kabar
   bahwa Sri Paus meninggal dunia,  maka  semua  Kardinal  dari
   seluruh  dunia menuju ke kota Roma (Vatikan) tanpa diundang.
   Disana mereka bersidang dalam  ruang  tertutup.  Dan  selama
   sidang para Kardinal dilarang berhubungan dengan dunia luar.
   Sidang dipimpin  oleh  Kardinal  yang  tertua  dibantu  oleh
   Kardinal termuda dalam usia. Selain para Kardinal hadir juga
   Sekretaris  Negara  Vatikan  yang  biasanya  bukan   seorang
   Kardinal.
 
   Tempat duduk para Kardinal merupakan kursi gantung yang bisa
   dinaikkan  dan  diturunkan.  Kursi   gantung   itu   disebut
   baldakim.  Kaki para Kardinal tidak menyentuh tanah, sebagai
   lambang  bahwa  masalah  duniawi  (ras,  bangsa,   pandangan
   politis)  tidak  akan  dijadikan  bahan  pertimbangan  dalam
   memilih Paus. Warna baldakim-pun  bermacam-macam;  ada  yang
   berwarna  merah,  ada  yang  berwarna  kuning  dan  ada yang
   berwarna hijau.  Kardinal  yang  duduk  di  baldakim  merah,
   artinya  Kardinal  yang  diangkat  oleh  Paus yang baru saja
   meninggal dunia. Baldakim yang  berwarna  kuning  disediakan
   untuk para Kardinal yang diangkat oleh Paus sebelumnya lagi,
   jadi  dengan  demikian  berarti  Kardinal  yang  duduk  pada
   baldakim kuning pernah dua kali mengikuti pemilihan Paus dan
   baldakim yang berwarna hijau untuk para Kardinal yang pernah
   mengikuti pemilihan Sri Paus sampai tiga kali, jadi diangkat
   oleh Paus yang memerintah  dua  periode  sebelum  Paus  yang
   meninggal  ini.  Lazimnya  tidak  ada Kardinal yang duduk di
   baldakim hijau. Pernah pemilihan Paus didalamnya  tidak  ada
   Kardinal  yang  duduk  di  baldakim  merah, karena Paus yang
   meninggal  baru  3  hari  menduduki  tahta,  belum   sempat
   mengangkat  Kardinal,  bahkan  para Kardinal yang memilihnya
   belum semua pulang ke negerinya. Yang sudah pulang dan  baru
   sampai  dipertengahan  jalan  dan  mendengar bahwa Paus yang
   baru dipilih 3 hari yang lalu meninggal, cepat-cepat kembali
   ke Vatikan lagi.
 
   Sementara   pemilihan   Paus  berlangsung,  di  luar  gedung
   pemilihan telah berkumpul umat Katolik yang ingin mengetahui
   hasil  pemilihan  Paus  Jika pemilihan tidak memenuhi syarat
   yang  ditentukan  misalnya  Kardinal  yang  mendapat   suara
   terbanyak  belum  mencapai  prosentase yang ditentukan, maka
   pemilihan  dianggap  belum  berhasil  dan  diulang  kembali.
   Kertas  pemungutan  suara  dikumpulkan  dan  dibakar  dengan
   jerami basah. Dari cerobong yang dapat dilihat  oleh  rakyat
   yang menunggu di luar tampak asap hitam. Umat di luar gedung
   pemilihan tahu bahwa pemilihan belum  berhasil.  Jika  sudah
   berhasil  maka kertas pemilihan dibakar dengan jerami kering
   sehingga asap putihlah yang keluar dari dalam cerobong.
 
   Begitu Paus baru terpilih, maka semua Kardinal menarik  tali
   baldakimnya   sehingga   baldakim  menyentuh  tanah,  sedang
   Kardinal yang terpilih sebagai Paus  menarik  tali  baldakim
   bukan  ke  bawah  tetapi  keatas;  ini sebagai lambang bahwa
   kedudukan mereka sekarang berlainan tidak lagi sejajar. Para
   Kardinal  yang  tak  terpilih  bersujud menyatakan kesetiaan
   mereka kepada hasil pilihan dan Paus terpilih. Kemudian Paus
   terpilih  memberikan  berkatnya  yang  pertama sebagai Paus.
   Paus terpilih dengan diantar oleh pimpinan sidang, yaitu dua
   Kardinal  yang  tertua  dan  yang  termuda  serta Sekretaris
   Negara membuka jendela di  mana  rakyat  yang  berkumpul  di
   lapangan  St.  Petrus  bersorak-sorak:  "Viva il Santo Papa!
   Viva il Santo Papa! (Hidup Santo Bapa, Hidup Santo Bapa).
 
   Kardinal yang tertua, yang memimpin sidang, kecuali jika dia
   sendiri  yang  terpilih  menjadi  Paus, maka pimpinan sidang
   yang lain yakni yang Kardinal  termuda,  mengenalkan  kepada
   rakyat    banyak   yang   kebanyakan   umat   Katolik   itu:
   "Saudara-saudara, Yang Mulia Kardinal … dari  Negara  …,
   telah  terpilih  menjadi  Paus baru dan beliau memilih nama:
   Sri Paus … Rakyat  kemudian  bersujud  dan  Paus  terpilih
   memberikan berkat kepausannya yang kedua.
 
   Menurut  pengajaran  Gereja  Ratolik,  maka  Sri  Paus tidak
   mungkin sesat dalam menetapkan hukum yang berhubungan dengan
   masalah  Agama. Surat edaran Sri Paus yang menerangkan suatu
   masalah disebut Ensiklik.  Biasanya memang  setiap  Ensiklik
   Sri  Paus  selalu  diterima dengan penuh ketaatan oleh dunia
   Katolik. Namun berbeda dengan Ensiklik  Humanea  Vitae  yang
   dikeluarkan  oleh  Sri  Paus  Paulus  VI sempat menggegerkan
   dunia, bukan saja dunia Katolik tetapi dunia  pada  umumnya:
   sebab untuk pertama kalinya Ensiklik Paus mendapat tantangan
   yang begitu hebat dan berakibat kewibawaan Sri Paus  merosot
   dimata  dunia.  Ensiklik  Humanea Vitae itu menegaskan bahwa
   masalah  pengaturan  kelahiran  hanya  diperbolehkan  dengan
   metode  pantang-berkala,  sedang  metode  yang  lain ditolak
   karena tidak sesuai dengan martabat manusia. Para  Uskup  di
   Negeri  Belanda  minta agar Ensiklik itu dicabut. Para Uskup
   di Indonesia dalam sidangnya memberikan penjelasan  Pastoral
   tentang  Ensiklik Humanea Vitae menjelaskan; "Bahwa Ensiklik
   itu  lahir  setelah  penyelidikan  yang  cukup  lama  dengan
   penelitian  yang  biayanya  tidak  sedikit, serta banyak doa
   yang diarahkan untuk maksud itu. Maka bagaimanapun  Ensiklik
   itu  wajib kita hormati. Kepada saudara yang dengan terpaksa
   menjalankan  dengan  metode  yang   menyimpang   dari   yang
   dianjurkan  oleh  seruan  Sri  Paus,  maka  masalahnya harus
   dibicarakan antara suami isteri dengan sikap  yang  dewasa."
   Namun para Uskup tidak membenarkan usaha-usaha yang bersifat
   perkosaan terhadap martabat  manusia,  misalnya  pengguguran
   dan pemandulan tetap.
 

Siapa Sebenarnya Juruselamat Dunia?
Oleh Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto
Penerbit PERSATUAN Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

25 December 2005

Kardinal

Filed under: Gereja Katolik
Kardinal
          
   Kardinal  adalah  pembantu  Paus,  sebagai  Dewan Penasehat,
   Dewan Paus. Ada Kardinal yang bertempat  tinggal  di  Negara
   Vatikan,    yang   biasanya   memimpin   suatu   Konggregasi
   (Kementerian) dan ada pula yang bertempat  tinggal  di  luar
   Vatikan,   umpamanya   Kardinal   Darmoyuwono,  Uskup  Agung
   Semarang.
 
   Pada jaman dulu jumlah Kardinal hanya  70,  dan  jumlah  ini
   terus  dipertahankan.  Jika ada yang meninggal maka diangkat
   yang baru. Tetapi semenjak Paus Yohanes XXIII, maka  tradisi
   yang  menetapkan  Kardinal hanya berjumlah 70 dihapuskan dan
   jumlahnya tidak  dibatasi,  sekarang  jumlah  para  Kardinal
   lebih  dari  120  orang dan jumlah itu bisa terus bertambah.
   Rupanya tradisi yang menetapkan jumlah Kardinal 70 diperoleh
   dari  nas  Injil  Lukas 10:1 di mana diceritakan bahwa Yesus
   menyuruh 70 orang muridnya.
 
   Menurut teori Kardinal itu bukan  jabatan  atau  pangkat  di
   atas  Uskup,  bahkan  boleh  seorang  Pastor  biasa diangkat
   Kardinal, bahkan seorang awam (dalam arti tidak  ditahbiskan
   sebagai  imam  atau  biarawan)  dapat  saja diangkat menjadi
   Kardinal,  asal  Katolik   dan   laki-laki.   Tetapi   dalam
   kenyataannya  sekarang  semua  Kardinal  yang  diangkat  itu
   umumnya Uskup atau Uskup Agung.
 

Siapa Sebenarnya Juruselamat Dunia?
Oleh Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto
Penerbit PERSATUAN Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

24 December 2005

Uskup

Filed under: Gereja Katolik
Uskup
          
   Lain halnya dengan Kardinal, maka Uskup tidak boleh di sebut
   pembantu  Paus;  sebab  pada hakekataya Paus juga Uskup kota
   Roma. Dalam tradisi Gereja Katolik, maka setiap Uskup  harus
   sumpah setia dan tunduk dibawah pengganti Petrus yaitu Paus.
 
   Kita  mengenal  istilah  Uskup  Agung dan Uskup, seolah-olah
   Uskup Agung membawahi Uskup. Setiap Uskup (Uskup  Agung  dan
   Uskup  biasa)  bertanggung  jawab  langsung kepada Sri Paus,
   namun mereka adalah Kepala Daerah otonom. Memang Uskup Agung
   merupakan  koordisnator para Uskup di dalam wilayah Propinsi
   Gerejani
 
   Jika suatu daerah dinilai belum dewasa sehingga belum diberi
   pemerintahan  sendiri  (hirarkie gereja), maka di daerah itu
   belum ada Keuskupan Agung atau Keuskupan. Untuk daerah  itu,
   seperti Indonesia sebelum tahun 1961, dibentuk Vikariat atau
   Prefektur,  yang  dikepalai  oleh  seorang  yang  berpangkat
   Uskup.  Bedanya  Keuskupan (dan atau Keuskupan Agung) dengan
   Vikariat atau Apostolik ialah:  bahwa  Uskup  yang  memimpin
   sebuah Keuskupan bertindak atas nama dirinya sendiri, sedang
   Uskup yang memimpin Vikariat Apostolik bertindak  atas  nama
   Sri Paus.
 
   Karena  pangkat  Uskup  harus  dikaitkan dengan nama daerah,
   maka Uskup yang tidak memimpin sebuah Keuskupan, yaitu  jika
   dia  memimpin  sebuah  Vikariat  atau  tugas  lain  misalnya
   sebagai Duta Besar, maka  dia  diberi  sebutan  tituler  dan
   dikaitkan  dengan  nama  daerah, yang biasanya daerah sebuah
   Keuskupan kuno yang sekarang telah musnah. Misalnya  sebelum
   tahun  1961,  belum  ada  Keuskupan  Agung  Jakarta yang ada
   Vikariat Apostolika de Jakartae; maka juga tidak  ada  Uskup
   Agung Jakarta; pimpinan Vikariat Jakarta diberi gelar: Uskup
   Agung tituler Trisaba mewakili Sri Paus memimpin Vikariat de
   Apostolika  de  Jakartae.  Semarang:  pada waktu Uskup Agung
   tituler   Danaba.   Purwokerto:   Uskup   tituler   Balburu.
   demikianlah,  keadaan  sebelum tahun 1961. Setelah pemberian
   hirarkie Gereja di Indonesia sesuai dengan Dekrit  Sri  Paus
   Acta  Apostolicae Sedis LIII hal. 244; tgl. 14 Januari 1961,
   maka lalu muncul Keuskupan Agung dan Keuskupan di Indonesia,
   maka  dengan  demikian  dikenal jabatan Uskup Agung Jakarta,
   Uskup Agung Semarang dan lain-lain.
 
   Uskup tituler juga diperuntukkan bagi Uskup yang tidak aktif
   lagi   menjalankan   fungsinya   sebagai   pemimpin   Gereja
   (pensiun), misalnya Mgr. Adrianus Djajaseputro S.J.  sewaktu
   memimpin  Vikariat  Jakartae  bergelar  Uskup  Agung Tituler
   Trisaba; dan sekarang setelah tidak memimpin Keuskupan Agung
   Jakarta  lagi,  maka  beliau  bergelar  Uskup  Agung tituler
   Bolsena. Pada waktu  Mgr.  Pius  Batubara  menjabat  sebagai
   Uskup  Muda/Uskup  Pembantu  Keuskupan  Agung  Medan  beliau
   bergelar: Uskup tituler  Ubaba.  Pada  waktu  dulu,  jabatan
   Uskup  selalu  dipangku  untuk  masa seumur hidupnya, tetapi
   semenjak Paus Paulus VI menetapkan bahwa  Uskup  yang  sudah
   berusia  75  tahun  boleh  mengajukan  permohonan  non aktif
   (pensiun). Jabatan Uskup bisa pensiun, tetapi  pangkat  yang
   melekat  karena  tahbisan (pelantikan) dibawa mati. Itu pula
   sebabnya pakaian  kebesaran  seorang  Uskup  yaitu  tongkat,
   mahkota,  Injil,  kasula  dibawakan sampai mati. Dan upacara
   penguburan seorang Uskup hanya boleh  dilakukan  oleh  Uskup
   juga.
 
   Uskup  diangkat  oleh  Sri  Paus dari 3 calon yang diusulkan
   oleh Dewan Keuskupan. Namun Sri Paus bebas  juga  mengangkat
   calon  lain,  namun  hal  yang  demikian  itu  jarang sekali
   dilakukan. Dalam keputusan Sri Paus selalu disebutkan  bahwa
   Pastor  yang diangkat menjadi Uskup, pentahbisannya (upacara
   pelantikannya) boleh meminta kepada seorang Uskup yang lain.
   Pakaian  kebesaran  Uskup  sama dengan pakaian kebesaran Sri
   Paus hanya berbeda dalam  warna  saja,  dan  tingkatan  yang
   lebih  rendah  misalnya  mahkotanya  bukan  tiara bertingkat
   tiga.
 
   Dalam melaksanakan  pekerjaan  seorang  Uskup  dibantu  oleh
   sebuah  Staf  yang  biasanya  terdiri  dari Vikaris Jenderal
   (Wakil) bisa disebut juga Vikaris Epikopus (Wakil Uskup) dan
   biasanya  hanya  seorang,  tetapi  Keuskupan  Agung Semarang
   mempunyai 4 orang  Wakil  Uskup;  yang  setiap  Wakil  Uskup
   membawahi bagian dari daerah Keuskupan itu, yakni: Semarang,
   Magelang, Yogyakarta dan  Surakarta.  Selain  Vik.Jen.  atau
   Vik.  Ep.  Uskup  juga  dibantu oleh seorang Sekretaris yang
   biasanya dijabat oleh seorang  Pastor.  Beberapa  Delegatus,
   yang   mengurus  suatu  bidang,  misalnya  Delegatus  Sosial
   (Del.Sos.), Delegatus Pendidikan (Del.Pen.)  dll,  merupakan
   suatu Staf yang membantu Uskup.
 
   Daerah Keuskupan terbagi atas beberapa Paroki yang dikepalai
   oleh seorang Pastor Paroki; mungkin dibantu oleh Pastor lain
   mungkin juga tidak.
 

Siapa Sebenarnya Juruselamat Dunia?
Oleh Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto
Penerbit PERSATUAN Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

23 December 2005

Konferensi Uskup Nasional

Filed under: Gereja Katolik
Konferensi Uskup Nasional
          
   Walaupun  setiap Uskup langsung bertanggung jawab kepada Sri
   Paus dan daerahnya adalah otonom dan berdaulat penuh,  namun
   Uskup  yang  bertempat  tinggal  di  satu  negara  mempunyai
   persoalan yang sama dalam hal hidup  di  negara  yang  sama.
   Maka   Uskup-Uskup   tersebut  membentuk  suatu  Sekretariat
   Bersama yang untuk Indonesia disebut  MAWI,  singkatan  dari
   Majelis Agung Wali Gereja Indonesia berkantor di Jalan Taman
   Cut Mutiah No. 6 Jakarta.
 
   Ini bukan berarti bahwa MAWI  merupakan  lembaga  di  antara
   Paus  dan  Uskup.  Uskup  berdaulat penuh atas daerahnya dan
   setiap  5  tahun  sekali   masing-masing   Uskup   mempunyai
   kewajiban  menghadap  Sri Paus. Kunjungan wajib ini disebut
   "ad limina." Di Indonesia terdapat 33 orang  Uskup  sehingga
   dengan  demikian  dapat  dipastikan bahwa setiap tahun pasti
   ada Uskup dari Indonesia yang menghadap Paus.
 
   MAWI setiap takun mengadakan Konferensi Para Uskup, biasanya
   menjelang  akhir tahun. Selain membicarakan beberapa masalah
   juga dipilih Presidium MAWI yang baru. Presidium  MAWI  yang
   sekarang, diketuai oleh Yustinus Kardinal Darmoyuwono, Uskup
   Agung Semarang, dan  2  orang  Wakil,  yakni  Mgr.  Dr.  Th.
   Lumanauw  Pr.  Uskup  Agung  Ujung  Pandang dan Mgr. Donatos
   Djagom SVD, Uskup Agung Ende;  Sekretaris  Jenderal  dijabat
   oleh  Mgr. Dr. Leo Sukoto SJ, Uskup Agung Jakarta; Bendahara
   oleh Mgr. P.S. Hardjosoemarto, MSc. Uskup Purwokerto.
 
   Pekerjaan  Sekretariat  MAWI  dipimpin  oleh   seorang   Pro
   Sekretaris. Pada MAWI ada bagian-bagian yang mengurusi suatu
   masalah, yang  disebut PWI (Panitya Wali Gereja  Indonesia),
   misalnya   PWI   Sosial,  PWI  Liturgi,  PWI  Seminari,  dan
   lain-lain  yang  jumlahnya  disesuaikan  menurut  kebutuhan.
   Selain  itu  juga ada bagian-bagian seperti Bagian Keuangan,
   Bagian Pendidikan, dll.
 

Siapa Sebenarnya Juruselamat Dunia?
Oleh Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto
Penerbit PERSATUAN Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

22 December 2005

Hirarkie Gereja Katolik Di Indonesia

Filed under: Gereja Katolik
Hirarkie Gereja Katolik Di Indonesia
          
   Seperti  diuraikan  di  atas  bahwa  sebelum  th.  1961   di
   Indonesia  belum ada Keuskupan Agung dan ke uskupan yang ada
   ialah  Vikariat  Apastolik  (Perwakilan  Takhta  Suci)  atau
   Prefektur  Apostolik.  Dengan Dekritnya tgl. 3 Januari 1961,
   Acta Apostolicae Sedis LIII (l961) hal: 244 Sri Paus Yohanes
   XXIII  memberikan  hirarkie  Gereja kepada Gereja Katolik di
   Indonesia.
 
   Menteri Agama RI dengan surat keputusan No. 89  tanggal:  13
   Desember   1965;   atas  usul  Kepala  Biro  Urusan  Katolik
   Departemen  Agama  (sekarang  Direktorat  Jenderal)  No.  B.
   IX/I/7/616   tgl   10   Februari  1965  dan  usul  MAWI  No.
   A/12174/211/00, tanggal 2 Oktober 1964 telah menetapkan:
 
   1. Merobah nama Vikariat  dan  Prefektur  Apostolik  menjadi
   Keuskupan  Agung  dan Keuskupan, kecuali Prefektur Apostolik
   Sibolga, dan juga Prefektur Weetebula.
 
   2. Menetapkan pembentukan hirarkie baru bagi Gereja  Katolik
   di Indonesia sebagai berikut:
 
   a.  Keuskupan Agung Semarang: meliputi wilayah-wilayah bekas
   Vikariat Apostolik  Semarang,  Keuskupan  Purwokerto  (bekas
   V.A.  =  Vikariat  Apostolik Purwokerto), Keuskupan Surabaya
   (bekas V.A, Surabaya), Keuskupan Malang (bekas V.A. Malang).
 
   b. Keuskupan Agung  Jakarta:  meliputi  wilayah  bekas  V.A.
   Jakarta,  Keuskupan  Bandung (bekas V A. Bandung), Keuskupan
   Bogor (bekas V.A Bogor).
 
   c. Keuskupan Agung Pontianak: meliputi  wilayah  bekas  V.A.
   Pontianak,  Keuskupan Banjarmasin (bekas V. A. Banjarmasin),
   Keuskupan  Samarinda  (bekas  V.A.   Samarinda),   Keuskupan
   Sintang  (bekas  V.  A.  Sintang), Keuskupan Ketapang (bekas
   V.A. Ketapang).
 
   d.  Keuskupan  Agung  Medan:  meliputi  bekas  V.A.   Medan,
   Keuskupan   Palembang   (bekas  V.A.  Palembang),  Keuskupan
   Pangkalpinang   (bekas   V.A.   Pangkalpinang),    Keuskupan
   Tanjungkarang  (bekas  V.A. Tanjungkarang), Keuskupan Padang
   (bekas V.A. Padang) dan Prefektur Apostolik Sibolga.
 
   e. Keuskupan Agung Ende: meliputi bekas  Vikariat  Apostolik
   Ende,  Keuskupan Larantuka (bekas V.A. Larantuka), Keuskupan
   Ruteng (bekas V.A. Ruteng), Keuskupan  Atambua  (bekas  V.A.
   Atambua),   Keuskupan  Denpasar  (bekas  Prefekur  Apostolik
   Denpasar) dan Prefekur ApostolikWeetebula.
 
   f. Keuskupan Agung  Makasar:  meliputi  bekas  VA.  Makasar,
   Keuskupan  Manado  (bekas V.A. Manado) dan Keuskupan Amboina
   (bekas V.A. Amboina) dalam bagian lain  dalam  S.K.  Menteri
   Agama  itu disebut bahwa mempunyai daya surut 3 Januari 1961
   sesuai Keputusan Sri Paus.
 
   Dalam perkembangan selanjutnya, Sri Paus membentuk  propinsi
   Gerejani  di  Irian  Jaya,  yakni:  Keuskupan Agung Merauke,
   Keuskupan Agats-Asmat,  Keuskupan  Manokwari  dan  Keuskupan
   Jayapura.
 

Siapa Sebenarnya Juruselamat Dunia?
Oleh Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto
Penerbit PERSATUAN Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

21 December 2005

Keuskupan di Indonesia

Filed under: Gereja Katolik
Keuskupan di Indonesia
          
   Di  Indonesia  terdapat  7 Keuskupan Agung dan 26 Keuskupan,
   yakni:
 
   1. Keuskupan Agung Jakarta: di bawah  pimpinan  Uskup  Agung
   Mgr.  Leo  Sukoto  S.J.  meliputi daerah DKI Jaya, Kabupaten
   Tangerang dan Kabupaten Bekasi.
 
   2. Keuskupan Bogor: Uskup Mgr. Drs.  Ignatius  Harsono  Pr.,
   meliputi   wilayah   Kabupaten:  Bogor,  Sukabumi,  Cianjur,
   Serang, Pandeglang dan Lebak.
 
   3. Keuskupan  Bandung:  Uskup  Petrus  Arntz  OSC.  meliputi
   Karesidenan  Priangan  dan  Cirebon,  Kabupaten  Krawang dan
   Purwakarta.
 
   4. Keuskupan Agung Semarang: di bawah pimpinan  Uskup  Agung
   Yustinus  Kardinal Darmoyuwono Pr., meliputi Ex. Karesidenan
   Semarang,  Surakarta,  Pati  (kecuali  Rembang  dan  Blora),
   Kabupaten Magelang dan Temanggung, DIY.
 
   5.  Keuskupan  Purwokerto: Uskup Mgr. PS. Hardjosoemarto MSC
   meliputi  Ex.  Karesidenan  Pekalongan,  Banyumas  dan  Kedu
   (kecuali Magelang dan Temanggung).
 
   6.  Keuskupan  Surabaya:  Uskup  Drs.  Yohanes  Kloster  CM,
   meliputi   Ex.   Karesidenan   Surabaya,   Kediri,   Madiun,
   Bojonegoro dan Kabupaten Rembang dan Blora.
 
   7.   Keuskupan   Malang:  Uskup  Mgr.  Drs.  FX.  Sudartanto
   Hadisumarto  O.  Carm.  meliputi:  ex.  Karesidenan  Malang,
   Besuki dan pulau Madura.
 
   8. Keuskupan Agung Medan: di bawah pimpinan Uskup Agung Pius
   AG. Datubara OFM. Cap meliputi Propinsi  Aceh  dan  propinsi
   Sumatra  Utara,  kecuali Kabupaten Nias, Tapanuli Tengah dan
   Tapanuli Selatan.
 
   9. Keuskupan Sibolga: (telah  ditingkatkan  dari  Prefektur)
   Uskup   Mgr.  Bernhard  Erich  Willing  OFM.  Cap.  meliputi
   Kabupaten Nias, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.
 
   10. Keuskupan Padang: Uskup Mgr. Reimondo C.  Bergamin  S.G.
   meliputi Sumaters Barat, Riau Daratan dan Kabupaten Kerinci.
 
   11.  Keuskupan  Palembang:  Uskup  J.  Hubertus Soudant SCJ.
   meliputi Propinsi Sumatera  Selatan,  Bangkahulu  dan  Jambi
   kecuali Kabupaten Kerinci.
 
   12   Keuskupan  Tanjungkarang:  Uskup Mgr, Dr. Andreas Henri
   Soesanto SCJ. meliputi propinsi Lampung.
 
   13. Keuskupan  Pangkalpinang:  Uskup  Nicolaas  P.  van  der
   Wessten SS.CC. meliputi Bangka, Belitung dan Kepulauan Riau.
 
   14. Keuskupan Agung Pontianak: di bawah pimpinan Uskup Agung
   Mgr. Drs. Hieronimus Bumbun SFM.  Cap.  meliputi  Kabupaten:
   Pontianak,  Sambas  dan Sanggau, (bag. Utara) semua terletak
   di Kalimantan Barat.
 
   15. Keuskupan Sintang: Uskup Mgr. L.  van  de  Boorn  S.M.M.
   meliputi  Kabupaten  Sintang  dan Kapuas Hulu (di Kalimantan
   Barat).
 
   16. Keuskupan Ketapang: Uskup Mgr. Drs. Gabriel W.  Silekens
   C.P. meliputi Kabupaten Ketapang
 
   17.  Prefektur  Apostolik Sekadau, Prefek Mgr, Lukas Spinoso
   C.P.  meliputi  Kabupaten  Sanggau  sebelah  selatan  Sungai
   Kapuas  dan daerah sebelah utara sungai Kapuas yang termasuk
   daerah ex. Karesidenan Sekadau.
 
   18. Keuskupan Banjarmasin: Uskup Mgr Gielmus Demarteau  MSF.
   meliputi Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
 
   19.   Keuskupan  Samarinda:  Uskup  Mgr.  Chr.  V.  Weegberg
   meliputi Propinsi Kalimantan Timur.
 
   20. Keuskupan Agung Ujung Pandang: di bawah  pimpinan  Uskup
   Agung  Mgr  Dr.  Th. Lumanauw Pr, meliputi Propinsi Sulawesi
   Tenggara.
 
   21. Keuskupan Manado: Dr. Th. Hubertus  Antonius  JAC  Moors
   MSC, meliputi Propinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.
 
   22.  Keuskupan  Amboina:  Uskup  And  PC.  Sol MSC. meliputi
   Propinsi Maluku.
 
   23. Keuskupan Agung Merauke: di bawah pimpinan  Uskup  Agung
   Mgr.  Yohanes  Divenvoorde  MSC, meliputi sebagian Kabupaten
   Merauke.
 
   24. Keuskupan Agats-Asmat: Uskup Mgr. Alphonse  Sowada  OSC,
   sebagian Kab. Merauke dan Daerah Cicak.
 
   25.  Keuskupan  Jayapura:  Uskup  Mgr. Herman FM Munninghoff
   OFM.  meliputi  Kabupaten  Jayapura,   Teluk   Cenderawasih,
   Jayawijaya,   Saniai,   Fak-Fak  sebelah  Timur  mulai  kota
   Kaimana.
 
   26. Keuskupan Manokwari: Uskup Mgr. Petrus van  Diepen  CSA.
   meliputi Manokwari, Sorong dan Fak-Fak sebelah barat
 
   27.  Keuskupan Agung Ende: dibawah pimpinan Uskup Agung Mgr.
   Donatus Dagom SVD, meliputi Kabapaten Sikka, Ende dan Ngada.
 
   28. Keuskupan Larantuka:  Uskup  Mgr.  Daritus  Nggawa  SVD,
   meliputi  Flores Timur, Pulau-pulau Adonara, Solor, Lembata,
   Alor dan Pantar.
 
   29.  Keuskupan  Ruteng:  Uskup  Mgr  Vitalis  Djebarus  SVD.
   meliputi Flores Barat.
 
   30.  Keuskupan Atambua: Uskup Mgr. Th. van den Tillaart SVD,
   meliputi Kabupaten: Belu dan Timor Tengah Utara.
 
   31. Keuskupan Kupang: Uskup Grehorius Manteiro SVD, meliputi
   Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan.
 
   32.   Keuskupan   Weetebula:   (peningkatan  dari  Prefektur
   Apostolik) meliputi pulau Sumba  dan  Sumbawa.  Uskup:  Mgr.
   Haripranoto SJ.
 
   33. Keuskupan Denpasar: Uskup Mgr. A. Hubertus Thijssen SVD,
   meliputi pulau pulau Bali dan Lombok.
 
   Selain itu kita mengenal istilah  Uskup  ABRI  yang  dijabat
   oleh  Yustinus  Kardinal  Darmoyuwono  Pr.  Uskup ABRI bukan
   merupakan suatu lembaga di bawah  pimpinan  ABRI,  melainkan
   Uskup  yang  bertanggung jawab akan rawatan rokhani terhadap
   anggota ABRI yang beragama Katolik.
 

Siapa Sebenarnya Juruselamat Dunia?
Oleh Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto
Penerbit PERSATUAN Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

20 December 2005

Tarekat Religius

Filed under: Gereja Katolik
Tarekat Religius
          
   Kalau kita perhatikan daftar nama  Uskup  di  atas  maka  di
   belakang  nama-nama itu kita jumpai singkatan: SJ, SVD, SCJ,
   OFM, dll.
 
   Singkatan-singkatan itu adalah menunjukkan  nama  Organisasi
   Tarekat  Relegius,  Pimpinan  Tarekat itu biasanya bermarkas
   besar di Roma dan disebut Jenderal, sedang wakilnya di  tiap
   negara disebut Propincial.
 
   Tarekat  itu  misalnya:  SJ,  (Tarekat  Jesuit),  SVD (Kalam
   Allah)  MSC  (Hati-Kudus),   OFM   (Fransiskan),   OFM   Cap
   (Fransiskan   Capusin),   O.   Carm   (Ordo   Karmelit),  CM
   (Conggregasi Maria) dll.
 
   Seorang Pastor  ketika  akan  ditahbiskan  mengucapkan  kaul
   (ikrar: kemiskinan  tidak menguasai harta pribadi), ketaatan
   kepada Pimpinan Tarekat dan hidup selibat  (tidak  menikah).
   Untuk  Pastor  dari  tarekat  masih  ditambah satu kaul lagi
   ialah: taat secara mutlak  kepada  Santo  Bapa  (Sri  Paus).
   Untuk  Pastor Praja (Pr) tidak harus berkaul kemiskinan, dan
   ketaatannya bukan kepada Pimpinan Tarekat  melainkan  kepada
   Uskup setempat.
 
   Perbedaan  Pastor  anggota  Tarekat Religius dg Pastor Praja
   ialah:
 
   1.  Anggota  Tarekat  tidak  mengikatkan  kepada   Keuskupan
   tertentu,  sedang  Pastor  Praja mengikatkan diri sepenuhnya
   kepada Keuskupan tertentu.
 
   2. Praja, adalah bukan nama suatu  tarekat  melainkan  bahwa
   Pastor   tersebut   Pastor   yang  tidak  mempunyai  tarekat
   (organisasi). Mereka juga mempunyai organisasi UNIO,  tetapi
   hakekatnya lain sekali dengan Organisasi Tarekat. UNIO tidak
   mempunyai kekuasaan mutlak kepada anggotanya.
 
   3. Keperluan hidup anggota tarekat (makan, pakaian)  menjadi
   tanggung  jawab tarekat, sedang kebutuhan untuk melaksanakan
   tugas (kendaraan) menjadi tanggung jawab Uskup di  mana  dia
   berkarya,  sedang untuk Pastor Praja baik keperluan hidupnya
   maupun kebutuhan untuk melaksanakan tugas  menjadi  tanggung
   jawab sepenuhnya dari Uskup.
 

Siapa Sebenarnya Juruselamat Dunia?
Oleh Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto
Penerbit PERSATUAN Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

19 December 2005

Direktorat Jenderal Bimasa Katolik

Filed under: Gereja Katolik
Direktorat Jenderal Bimasa Katolik
          
   Departemen Agama Rl mempunyai 5 Direktorat Jenderal:
 
   Dir.Jen.  Bimasa  Islam,  Dir.Jen.  Bimasa Kristen, Dir.Jen.
   Bimasa Katolik, Dir.Jen Bimasa  Hindu  dan  Budha,  Dir.Jen.
   Urusan Haji,  Dir.Jen.   Bimasa   Katolik   adalah  instansi
   pemerintah  yang  tidak   ada   hubungan   hirarkie   dengan
   Gereja Katolik.
 
   Sebelum  th  1967,  kedudukan  Dir.Jen. Bimasa Katolik belum
   ada, Urusan Katolik diurus oleh  Biro  Urusan  Katolik  yang
   dipimpin  pada  waktu itu oleh Sp. M J. Oentoe yang kemudian
   diangkat  menjadi  Sekretaris  Direktorat  Jenderal   Bimasa
   Katolik  pada waktu Biro Urusan Katolik ditingkatkan menjadi
   Direktorat Jenderal Bimasa Katolik.
 
   Direktur Jenderal Bimasa Katolik yang pertama ialah  Ibu  B.
   Kwari  Sosrosoemarto  sampai  akhir tahun 1974 yang kemudian
   diganti oleh Bapak Mayor Jenderal Ignatius Joko Mulyono.
 
   Literatur
          
   1. Ensiklopedi Indonesia.
 
   2. Sejarah  Gereja  Katolik  lndonesia,  jilid  4  tentang:
      Pengintegrasian di Alam Indonesia, Dr. M.P.M. Muskens Pr.
 
   3. Riwayat  hidup  Paus Pius X, khususnya tentang tata cara
      pemilihan Paus.
 
   4. Kitab Suci Perjanjian Baru, terbitan Departemen Agama,
 
   5. Majalah Bimas Katolik No. 2 Tri Wulan I tahun VIII-1976.
 
   6. Buku Petunjuk Gereja Katolik tahun 1976.
 

 
Siapa Sebenarnya Juruselamat Dunia?
Oleh Yohannes Baptista Sariyanto Siswosoebroto
Penerbit PERSATUAN Jln. KHA Dahlan 103, Yogyakarta, 1977

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com